Donald Trump Dituduh Tidak Beragama Kristen, Melainkan Mengikuti ‘Israelisme’, Apa Artinya?

Pernyataan yang melibatkan Presiden Donald Trump dan Paus Leo XIV baru-baru ini menarik perhatian publik secara luas. Trump mengeluarkan kritik tajam terhadap Paus, menyebutnya lemah dalam menangani isu-isu kejahatan dan tidak efektif dalam kebijakan luar negeri.

Kritikan tersebut disampaikan Trump setelah Paus Leo menolak segala bentuk perang yang mengatasnamakan agama, yang menjadi perdebatan hangat di kalangan pengamat politik dan masyarakat umum.

Dalam podcast terbaru, jurnalis konservatif dan podcaster, Tucker Carlson, juga menyentuh perihal agama yang diyakini oleh Trump. Carlson menyatakan bahwa Trump sebenarnya menganut apa yang disebutnya sebagai ‘Israelisme’ dan bukan Kekristenan.

Menurut Carlson, pernyataan ini muncul sebagai respons terhadap kritik yang dilayangkan kepada Paus Leo XIV dan unggahan AI yang menunjukkan Trump menyerupai sosok Yesus Kristus.

Carlson melanjutkan dengan pendapat bahwa Amerika Serikat terlibat dalam konflik dengan Iran demi kepentingan Israel, yang ia sebut sebagai dorongan dari negara tersebut.

“Sejujurnya, apa agama Donald Trump? Itu jelas bukan Kekristenan. Itu adalah Israelisme. Ini adalah pembelaan terhadap Israel,” ungkap Carlson, yang dikutip dari sumber berita pada 17 April 2026.

Dia juga menegaskan bahwa dukungan terhadap Israel telah bertransformasi menjadi semacam agama sipil di Amerika Serikat.

Carlson menggambarkan unggahan media sosial Trump sebagai bentuk simbolisme yang berusaha menyampaikan pesan iman, meski tidak menciptakan teologi yang solid.

Dia berpendapat bahwa tindakan Trump yang menyerupai Yesus dalam unggahan tersebut mencerminkan penghinaan terhadap Tuhan oleh seorang pemimpin dunia. Carlson juga memberikan pujian kepada mantan anggota Kongres AS, Marjorie Taylor Greene, yang menyebut unggahan itu lebih dari sekadar penistaan, melainkan mencerminkan ‘roh Antikristus’.

Dari sisi lain, Wakil Presiden AS, J.D. Vance, yang beragama Katolik, memberikan pembelaan terhadap Trump dengan menekankan pentingnya kehati-hatian Paus dalam berbicara mengenai isu-isu teologis.

Beberapa pejabat senior AS juga memanfaatkan simbolisme religius untuk mendukung tindakan militer terhadap Iran. Menteri Pertahanan Pete Hegseth, misalnya, menyerukan agar warga Amerika berdoa untuk kemenangan dengan mengatasnamakan Yesus Kristus.

➡️ Baca Juga: Bursa Asia Tertekan Pasca Gagalnya Perundingan Damai AS-Iran, Kospi Terparah

➡️ Baca Juga: Strategi Efektif Menjadi Penilai Iklan Online untuk Perusahaan Teknologi Global

Exit mobile version