Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) kembali melanda Malaysia di awal tahun 2026, menandakan tantangan besar bagi pasar tenaga kerja di negara tetangga Indonesia ini. Data terkini menunjukkan peningkatan signifikan jumlah pekerja yang kehilangan pekerjaan, terutama di sektor-sektor yang sangat terpengaruh oleh dinamika ekonomi global.
Kenaikan angka PHK ini menimbulkan kekhawatiran mengenai stabilitas pasar tenaga kerja, meskipun tingkat pengangguran secara keseluruhan masih berada dalam batas yang wajar.
Menurut analisis yang dilakukan oleh Hong Leong Investment Bank (HLIB), sebanyak 24.100 pekerja terpaksa kehilangan pekerjaan mereka pada kuartal pertama tahun 2026. Angka tersebut mengalami lonjakan sebesar 47 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Puncak dari gelombang PHK ini terjadi pada bulan Januari dengan 10.700 pekerja yang terdampak. Meskipun angka tersebut menurun pada bulan Februari menjadi 7.500 dan kembali turun menjadi 5.900 pada bulan Maret, total PHK yang terjadi masih jauh lebih tinggi dibandingkan kuartal pertama tahun 2025 yang mencatat sekitar 16.500 pekerja yang mengalami PHK.
HLIB mengidentifikasi sektor manufaktur sebagai sektor yang paling rentan dalam menghadapi gelombang PHK kali ini. Ketergantungan sektor ini terhadap perdagangan global serta permintaan dari luar negeri menjadikannya sangat rentan terhadap perlambatan ekonomi dunia yang sedang berlangsung.
Dalam laporan tersebut, HLIB menyebutkan bahwa sektor manufaktur merupakan “mata rantai terlemah” dalam pasar tenaga kerja saat ini. Ketidakpastian ekonomi global dan meningkatnya ketegangan geopolitik menjadi tantangan tambahan. Selain sektor manufaktur, PHK juga banyak terjadi di sektor perdagangan grosir dan ritel, serta sektor logistik.
Dari aspek geografis, kawasan Lembah Klang, yang mencakup Selangor dan Kuala Lumpur, menjadi wilayah dengan jumlah PHK terbanyak. Pada bulan Maret, Selangor menyumbang 29,3 persen dari total angka PHK nasional, sementara Kuala Lumpur mengikuti dengan kontribusi sebesar 25,6 persen.
Ini berarti bahwa lebih dari separuh total PHK di Malaysia terjadi di kawasan Lembah Klang. Sebelumnya, pada bulan Februari, kontribusi Kuala Lumpur bahkan mencapai 38 persen, menunjukkan bahwa pusat bisnis utama ini menjadi yang paling terdampak oleh restrukturisasi perusahaan.
Di luar Lembah Klang, wilayah seperti Penang dan Johor juga menghadapi risiko tinggi akibat potensi PHK. Penang berisiko tinggi mengingat ketergantungannya pada industri listrik dan elektronik, sementara Johor terpengaruh oleh fluktuasi perdagangan dan dampak dari Singapura.
Meskipun angka PHK mengalami peningkatan, kondisi keseluruhan pasar tenaga kerja tetap terlihat stabil. Data menunjukkan bahwa tingkat pengangguran tetap bertahan di angka 2,9 persen selama empat bulan berturut-turut, menunjukkan bahwa meskipun ada tantangan, pasar tenaga kerja masih menunjukkan ketahanan.
➡️ Baca Juga: BMKG Mengungkap Penyebab Gempa di Malut: Deformasi Kerak Bumi Teridentifikasi
➡️ Baca Juga: Kekalahan Arsenal Memberikan Kontrol Penuh kepada Manchester City untuk Menjadi Juara
