Harga Emas Mencetak Rekor Baru Akibat Konflik Iran dan AS-Israel Mendorong Permintaan Safe Haven

Harga emas global mengalami lonjakan signifikan di awal Maret, menyusul serangan besar yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran yang mengakibatkan tewasnya Pemimpin Tertinggi Teheran, Ayatollah Ali Khamenei. Aksi militer ini menciptakan gelombang baru ketidakpastian di seluruh dunia, mendorong para investor untuk beralih ke aset-aset yang dianggap lebih aman.

Dalam catatan terbaru, harga emas spot meningkat sebesar 1,72 persen, mencapai angka US$5.368,09 per ons, atau sekitar Rp90,18 juta berdasarkan kurs Rp16.800. Sementara itu, untuk kontrak berjangka emas di pasar Amerika Serikat, harganya melonjak bahkan lebih tinggi, dengan kenaikan mencapai 2,58 persen, menyentuh angka US$5.382,60 per ons, yang setara dengan Rp90,43 juta.

Serangan yang terjadi tidak hanya berhenti di situ. Israel melanjutkan serangan ke Iran pada hari Minggu, yang direspon oleh Iran dengan meluncurkan rangkaian rudal. Kondisi ini semakin memperburuk ketidakstabilan di kawasan Timur Tengah dan meningkatkan kekhawatiran di pasar global.

Kyle Rodda, seorang analis pasar senior di Capital.com, mengungkapkan bahwa situasi konflik saat ini berpotensi lebih mengkhawatirkan dibandingkan dengan eskalasi sebelumnya.

“Berbeda dengan konflik sebelumnya, saat ini terdapat insentif yang kuat bagi kedua belah pihak untuk melanjutkan serangan, yang berisiko menciptakan suasana yang kacau dan penuh ketidakpastian. Ini bisa berlangsung tidak hanya dalam hitungan hari, tetapi dalam jangka waktu yang lebih panjang. Di tengah kondisi seperti ini, dinamika pasar emas terlihat cukup positif,” jelasnya, mengutip dari Times of India.

Emas, yang selama ini dikenal sebagai aset safe haven, terus mencetak rekor demi rekor sepanjang tahun ini. Kenaikan terbaru ini menyumbang tambahan kenaikan sekitar 64 persen sepanjang tahun 2025, didorong oleh pembelian oleh bank sentral, arus dana besar ke dalam produk exchange-traded fund (ETF), serta harapan akan pelonggaran kebijakan moneter di Amerika Serikat.

Beberapa bank investasi terkemuka bahkan memperkuat proyeksi mereka mengenai harga emas. JPMorgan dan Bank of America memperkirakan bahwa harga emas berpotensi mendekati angka US$6.000 per ons, yang berarti sekitar Rp100,8 juta.

JPMorgan lebih jauh memprediksi bahwa kombinasi permintaan dari bank sentral dan investor individu dapat mendorong harga emas mencapai US$6.300 per ons, atau setara dengan Rp105,84 juta pada akhir tahun 2026.

Di sisi lain, data ekonomi dari Amerika Serikat juga turut menambah kehati-hatian di pasar. Harga produsen di AS pada bulan Januari tercatat mengalami peningkatan yang lebih tinggi dari yang diperkirakan, menunjukkan bahwa tekanan inflasi mungkin akan kembali meningkat dalam beberapa bulan mendatang. Para investor kini sedang menunggu laporan penting terkait ketenagakerjaan, termasuk data ADP, klaim pengangguran mingguan, serta laporan non-farm payrolls yang akan datang.

➡️ Baca Juga: Aktivis Ungkap Kerusakan Lingkungan dari Industri E-commerce

➡️ Baca Juga: Konflik Administratif antara Aceh Dan Sumut: Penyebab dan Dampak

Exit mobile version