Harga Minyak Dunia Terjun Setelah AS Sinyalkan Pencabutan Sanksi Kapal Tanker di Selat Hormuz

Harga minyak dunia mengalami penurunan signifikan dalam sesi perdagangan hari ini, Jumat, 20 Maret 2026. Penurunan ini dipicu oleh pernyataan Menteri Keuangan Amerika Serikat (AS), Scott Bessent, yang menimbulkan gejolak di pasar energi global.

Bessent mengungkapkan bahwa Gedung Putih sedang mempertimbangkan untuk mencabut sanksi dan memungkinkan kembali beroperasinya kapal tanker yang mengangkut cadangan minyak. Langkah ini diambil sebagai upaya untuk mengurangi tekanan harga setelah Iran menutup Selat Hormuz.

“Dalam beberapa hari mendatang, kami kemungkinan akan mencabut sanksi terhadap minyak Iran yang saat ini berada di laut, yang jumlahnya sekitar 140 juta barel,” ungkap Bessent dalam wawancara dengan CNBC Internasional pada hari yang sama.

Ia menambahkan bahwa pencabutan sanksi ini diharapkan dapat meredakan lonjakan harga minyak dalam jangka pendek, khususnya dalam waktu 10 hingga 14 hari ke depan. Strategi AS untuk memberikan dukungan pada sektor energi tampaknya mulai menunjukkan hasil positif.

Harga minyak Brent tercatat turun sebesar 1,62 persen menjadi US$106,89 atau setara dengan Rp 1.809.540,81 (berdasarkan kurs Rp 16.930) per barel. Selain itu, minyak mentah AS (WTI) juga mengalami penurunan sebesar 1,89 persen, menjadi US$94,32 atau sekitar Rp 1.596.743,28 per barel.

Konflik yang terjadi di Timur Tengah tetap menjadi faktor utama yang mendorong kenaikan harga energi. Penutupan Selat Hormuz oleh Iran telah mengganggu sekitar 20 persen dari total pasokan minyak global, yang berkontribusi pada lonjakan harga tersebut.

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyatakan bahwa negaranya juga berupaya membantu AS dalam membuka kembali jalur penting tersebut. Ia juga mengklaim bahwa kemampuan Iran dalam memperkaya uranium serta memproduksi rudal balistik telah mengalami penurunan, sehingga konflik di wilayah itu berpotensi berakhir lebih cepat dari yang diperkirakan.

Citigroup (Citi), lembaga keuangan global terkemuka, bahkan meningkatkan proyeksi harga minyak dalam waktu dekat. Mereka memperkirakan bahwa harga minyak Brent dan WTI dapat melonjak hingga mencapai US$120 per barel dalam satu hingga tiga bulan ke depan, bahkan berpotensi mencapai US$150 per barel dalam skenario terburuk jika gangguan pasokan berlanjut.

Seiring dengan itu, pejabat-pejabat minyak dari Arab Saudi memperkirakan bahwa harga minyak bisa melesat lebih dari US$180 per barel, terutama jika gangguan yang disebabkan oleh konflik dengan Iran berlangsung hingga akhir bulan April.

➡️ Baca Juga: Strategi Kebugaran Efektif untuk Mempertahankan Postur Tubuh Optimal Selama Aktivitas Duduk Panjang

➡️ Baca Juga: Bigmo dan Resbob Resmi Jadi Tersangka Dalam Kasus Fitnah Azizah Salsha, Bareskrim Berkomentar

Exit mobile version