Partab Shivani, seorang pria Hindu berusia 48 tahun yang berasal dari Pakistan, telah mengadopsi tradisi berpuasa selama bulan Ramadan selama bertahun-tahun.
Di Kota Mithi, ia dan teman-temannya secara teratur mengadakan acara buka puasa bersama (bukber) untuk memperkuat hubungan dan solidaritas antaretnis dan agama.
“Saya yakin kita harus mendorong kerukunan antara berbagai agama. Perdamaian bisa tumbuh melalui solidaritas dan saling mendukung. Jarak hanya akan memperburuk perpecahan di antara kita,” ujarnya, sebagaimana dilansir dari situs Straitstimes pada Rabu, 11 Maret 2026.
Di Pakistan, 96 persen dari total 240 juta penduduknya adalah Muslim, sementara hanya 2 persen yang beragama Hindu, dengan sebagian besar dari mereka tinggal di Kota Mithi, Provinsi Sindh.
Di kota ini, sekitar 60 ribu penduduknya mayoritas beragama Hindu. Meskipun demikian, banyak dari mereka yang ikut berpuasa selama Ramadan, dan acara bukber telah menjadi kegiatan sosial yang dinanti-nantikan oleh masyarakat dari kedua agama di Mithi.
“Acara bukber ini telah menjadi tradisi indah bagi kami selama bertahun-tahun. Ini adalah sebuah contoh menawan tentang keharmonisan antar umat beragama,” kata Mir Muhammad Buledi, yang berusia 51 tahun.
Diskriminasi terhadap kelompok minoritas di Pakistan sudah menjadi masalah kronis. Setelah berakhirnya kekuasaan Inggris di Asia Selatan pada tahun 1947, wilayah tersebut terpecah menjadi India yang mayoritas Hindu dan Pakistan yang mayoritas Muslim.
Perpecahan tersebut memicu kekerasan yang meluas, mengakibatkan ratusan ribu jiwa melayang dan jutaan orang terpaksa mengungsi.
Menurut laporan dari Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Pakistan, kebebasan beragama terus-menerus terancam, dengan meningkatnya insiden kekerasan dan diskriminasi yang didorong oleh faktor agama setiap tahunnya.
Pemerintah, menurut mereka, telah gagal menangani masalah ini. Namun, ketegangan seperti itu tidak dirasakan di Mithi. “Sebagai seorang Hindu, saya tetap berpuasa selama satu bulan penuh. Saya merasa bangga berdiri bersama saudara-saudara Muslim. Kami juga merayakan Idul Fitri bersama-sama,” ungkap Sushil Malani, seorang politisi lokal.
Selama bulan Ramadan, restoran dan warung teh di seluruh Pakistan umumnya tutup. Ramesh Kumar, seorang pria Hindu berusia 52 tahun yang menjual manisan dan makanan ringan di dekat masjid, memastikan untuk menutup gerobaknya hingga saat berbuka puasa.
➡️ Baca Juga: Sule Minta Maaf Usai Membuat Konten Saat Ngelayat di Rumah Duka Vidi Aldiano
➡️ Baca Juga: Pebulutangkis Indonesia Raih Emas di Olimpiade
