Seorang pejabat tinggi Iran dengan tegas membantah pernyataan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang mengklaim bahwa pemimpin baru Iran telah mengajukan permintaan untuk gencatan senjata. Hal ini terjadi di tengah konflik yang terus berkecamuk antara AS, Israel, dan Iran.
Ali Hashem, seorang jurnalis dari Al Jazeera yang melaporkan dari Teheran, menginformasikan bahwa pejabat Iran tersebut menolak klaim yang disampaikan Trump melalui media sosial, yang menyebutkan bahwa Iran baru saja meminta gencatan senjata kepada AS.
“Pihak Iran menegaskan bahwa mereka tidak pernah mengajukan permintaan gencatan senjata,” kata Hashem, mengutip dari sumber yang terpercaya.
Sebelumnya, Trump dalam unggahannya di platform media sosialnya, Truth, menyatakan bahwa AS akan mempertimbangkan permintaan gencatan senjata dari Iran jika Selat Hormuz telah dibuka dan aman untuk dilalui.
Dia menambahkan, “Sampai saat itu, kami akan menghancurkan Iran secara total, atau, seperti yang mereka katakan, mengembalikannya ke Zaman Batu!!!” ungkapnya dengan nada yang agresif.
Pernyataan Trump tersebut muncul hanya beberapa jam sebelum ia dijadwalkan untuk memberikan pidato penting di Washington, DC, yang menurut informasi dari Gedung Putih, akan membahas perkembangan terbaru mengenai situasi di Iran.
Saat ini, pemerintahan Trump berada di bawah tekanan yang semakin meningkat terkait konflik yang melibatkan AS dan Israel melawan Iran. Ini terjadi di tengah lonjakan harga energi global dan meningkatnya ketidakpuasan publik di Amerika terhadap konflik yang berkepanjangan ini.
Pada hari Senin, Trump menyampaikan kepada wartawan di Gedung Putih bahwa harga energi diperkirakan akan turun drastis begitu AS memutuskan untuk mengakhiri perang yang menurutnya bisa terjadi dalam dua hingga tiga minggu ke depan.
Namun, ancaman Trump untuk melanjutkan serangan terhadap Iran sampai Selat Hormuz dibuka kembali menimbulkan keraguan, apakah perang ini benar-benar akan segera berakhir seperti yang ia klaim sebelumnya.
Selat Hormuz, yang merupakan jalur laut strategis di kawasan Teluk dan dilalui sekitar 20% dari total pasokan minyak dan gas alam cair dunia, kini hampir sepenuhnya tertutup akibat konflik yang berlangsung. Hal ini menimbulkan kekhawatiran yang signifikan akan terjadinya perlambatan ekonomi global.
Mohamad Elmasry, seorang profesor di Doha Institute for Graduate Studies, berpendapat bahwa pernyataan Trump di platform Truth Social seolah memberikan harapan dan kemudian segera menariknya kembali, menciptakan kebingungan di kalangan publik.
➡️ Baca Juga: AI dan Masa Depan untuk Pemula: Apa yang Harus Diketahui
➡️ Baca Juga: PS5 Model CFI-1300 Bedanya 13 Watt Lebih Irit Ini Detail Internalnya
