Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, mengajak semua pihak untuk mendorong inovasi dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Ia percaya bahwa dengan menciptakan menu yang berkualitas tinggi, masyarakat dapat menikmati makanan sehat tanpa harus mengeluarkan biaya yang mahal.
Dadan menginginkan agar para ahli gizi dan koki profesional dapat berkolaborasi untuk mengembangkan menu khas MBG. Ini bukan hanya tentang memenuhi standar gizi, tetapi juga menghadirkan pengalaman kuliner yang setara dengan hidangan restoran bintang lima.
“Saya berharap suatu saat kita akan melihat inovasi dari para ahli gizi dan chef yang mampu menciptakan menu Program Makan Bergizi dengan kualitas setara bintang lima, tetapi tetap dengan biaya yang terjangkau, hanya dengan bahan baku senilai Rp10.000,” ungkap Dadan dalam keterangannya, menggarisbawahi ambisi tinggi yang ingin dicapai.
Dia menekankan pentingnya inovasi produk, terutama selama bulan Ramadan. Pada bulan yang penuh berkah ini, makanan yang disajikan harus tidak hanya bergizi dan segar, tetapi juga memiliki daya simpan yang lebih lama untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
“Inovasi produk menjadi krusial, terutama dalam konteks Ramadan, di mana kita memerlukan makanan berkualitas tinggi, segar, dan tahan lama. Inilah tantangan yang harus kita hadapi,” jelas Dadan, menekankan kebutuhan akan solusi yang efektif dalam penyediaan makanan.
Dadan juga mencatat peningkatan signifikan dalam jumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam satu tahun terakhir. Dari sekitar 1.000 unit SPPG pada Ramadan tahun lalu, kini jumlah tersebut melonjak menjadi sekitar 25.000 unit di seluruh Indonesia.
Dia menyebutkan bahwa peningkatan jumlah SPPG ini membawa tantangan tersendiri dalam menjaga konsistensi kualitas layanan. Meskipun ada beberapa SPPG yang menjadi sorotan publik, ia berpendapat bahwa hal tersebut masih dalam batas wajar jika melihat jumlah keseluruhan yang beroperasi.
“Jika ada 62 unit yang menjadi viral dari total 25.000, secara persentase angka ini sebetulnya kecil, tetapi hal-hal inilah yang seringkali menjadi fokus perhatian masyarakat,” tambahnya, memberikan perspektif tentang tantangan yang ada.
Dadan menegaskan bahwa evaluasi dan perbaikan internal harus terus dilakukan untuk memastikan bahwa kualitas layanan MBG merata di seluruh daerah. Ia juga menekankan pentingnya kepatuhan terhadap petunjuk teknis dan standar operasional prosedur (SOP) yang telah ditetapkan agar tidak ada penyimpangan.
“Kita harus terus melakukan perbaikan untuk memastikan kualitas layanan yang merata. Tidak ada satu pun SPPG yang boleh menyimpang dari pedoman dan SOP yang sudah ditetapkan,” tegasnya, menggarisbawahi komitmen untuk meningkatkan mutu layanan yang diberikan kepada masyarakat.
➡️ Baca Juga: Startup Lokal Rilis Aplikasi Pendidikan Berbasis AI
➡️ Baca Juga: Ekspor RI ke Tiongkok Capai US$5,27 Miliar pada Januari 2026, dari Baja hingga Nikel
