BMKG Mengungkap Penyebab Gempa di Malut: Deformasi Kerak Bumi Teridentifikasi

Pelaksana Tugas Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Rahmat Triyono, menginformasikan bahwa gempa yang terjadi di barat daya Pantai Pulau Batang Dua, Kota Ternate, Provinsi Maluku Utara pada Kamis pagi disebabkan oleh aktivitas deformasi pada kerak bumi.
Menurutnya, berdasarkan lokasi episenter dan kedalaman hiposenter, gempa tersebut termasuk dalam kategori gempa bumi dangkal yang dihasilkan dari proses deformasi kerak bumi. Penjelasan ini disampaikan dalam laporan yang diterima dari Stasiun Geofisika Manado.
Analisis mengenai mekanisme sumber gempa menunjukkan bahwa pergerakan yang terjadi adalah jenis thrust fault, yang merupakan salah satu bentuk pergerakan tektonik yang umum.
Gempa ini dirasakan cukup kuat di Kota Ternate dengan intensitas V-VI MMI, yang menunjukkan bahwa semua penduduk merasakan getaran, banyak yang terkejut dan berlarian keluar, serta menyebabkan kerusakan ringan seperti plester dinding yang jatuh dan kerusakan pada cerobong asap di pabrik.
Di Ibu Kota dengan intensitas V MMI, hampir semua penduduk merasakan getaran yang cukup signifikan, sementara di Kota Manado, intensitas yang dirasakan adalah IV-V MMI, di mana sebagian besar penduduk terbangun akibat guncangan tersebut.
Selain itu, getaran juga terasa di Gorontalo, Bone Bolango, dan Gorontalo Utara dengan intensitas III MMI, di mana banyak orang merasakan getaran seakan ada truk besar yang melintas. Di Kabupaten Boalemo dan Pohuwato, intensitas yang dirasakan berkisar antara II-III MMI, di mana beberapa orang merasakan guncangan dan benda-benda ringan yang digantung mulai bergoyang.
Pemodelan yang dilakukan menunjukkan bahwa gempa bumi ini memiliki potensi untuk menyebabkan tsunami, dengan status siaga berlaku di beberapa lokasi seperti Kota Ternate, Halmahera, Kota Tidore, dan Kota Bitung, serta bagian selatan Minahasa dan Minahasa Utara.
Sementara itu, status waspada dikeluarkan untuk Kepulauan Sangihe dan bagian utara Minahasa Utara, serta bagian selatan Bolaang Mongondow.
Hasil pemantauan tinggi muka air laut atau “Tide Gauge” menunjukkan adanya indikasi tsunami yang terdeteksi di Halmahera Barat pada pukul 06.08 WIB dengan ketinggian 0,30 meter, di Bitung pada pukul 06.15 WIB dengan ketinggian 0,20 meter, serta di Sidangoli pada pukul 06.16 WIB dengan ketinggian 0,35 meter.
Di Minahasa Utara, pengukuran pada pukul 06.18 WIB menunjukkan ketinggian 0,75 meter, dan di Belang pada pukul 06.36 WIB, tinggi air mencapai 0,68 meter.
Hingga pukul 06.50 WIB, BMKG mencatat adanya 11 aktivitas gempa bumi susulan (aftershock) dengan magnitudo terbesar mencapai M5,5, menunjukkan adanya aktivitas seismik yang masih berlangsung di kawasan tersebut.
➡️ Baca Juga: Android 15 punya fitur AI yang bisa nulis pesan otomatis tapi lo gak tau lokasinya
➡️ Baca Juga: Investasi Saham IPO Startup Digital untuk Maksimalkan Potensi Keuntungan Anda




