Pemerintah Ungkap Penyebab Menurunnya Produktivitas Tebu Nasional Secara Jelas

Jakarta – Pemerintah Indonesia telah mengambil sejumlah langkah strategis untuk mencapai swasembada gula konsumsi pada tahun 2028. Untuk mencapai target produksi gula konsumsi sebanyak 3 juta ton pada tahun 2026, Kementerian Pertanian telah merumuskan berbagai kebijakan yang mendukung.
Direktur Hilirisasi Hasil Perkebunan Kementerian Pertanian, Kuntoro Boga Andri, mengungkapkan bahwa Holding Pangan ID Food bersinergi dengan PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) telah melaksanakan konsolidasi dalam industri gula nasional. Konsolidasi ini mencakup integrasi 36 pabrik gula yang tersebar dari Sumatra hingga Sulawesi.
“Demi mencapai target itu, pemerintah mengandalkan dua strategi utama: perluasan lahan dan peningkatan produktivitas,” jelas Kuntoro dalam pernyataannya pada 18 April 2026.
Program hilirisasi perkebunan, yang mencakup peremajaan tebu melalui metode bongkar ratoon dan pembukaan lahan baru seluas 200 ribu hektare pada tahun 2025 dan 2026, masih terus diupayakan meskipun menghadapi berbagai tantangan di lapangan, menurut Kuntoro.
Kebijakan tersebut diperkuat dengan terbitnya Perpres No. 40/2023 mengenai Percepatan Swasembada Gula Nasional serta Penyediaan Bioetanol. Selain itu, pemerintah juga akan melepaskan varietas tebu unggul yang memiliki potensi hasil yang tinggi.
“Dari sisi tata niaga, penetapan harga acuan sebesar Rp 14.500 per kilogram di tingkat produsen dan Rp 17.500 per kilogram di tingkat konsumen diharapkan dapat menciptakan keseimbangan antara insentif bagi petani dan keterjangkauan harga bagi masyarakat,” tambah Kuntoro.
Namun, di balik optimisme tersebut, tantangan struktural tetap menghantui. Produktivitas tebu nasional masih tergolong rendah, dengan rata-rata produksi gula hanya sekitar 4,74 ton per hektar, jauh di bawah capaian terbaik yang pernah ada.
Ada berbagai faktor yang menyebabkan hal ini, antara lain kondisi kebun tebu yang sudah menua, keterbatasan bibit unggul, serta praktik budidaya yang belum dioptimalkan. Selain itu, infrastruktur irigasi yang kurang memadai dan akses permodalan yang terbatas juga berkontribusi terhadap masalah ini.
“Di sisi hilir, banyak pabrik gula berusia tua yang memiliki rendemen rendah. Meskipun revitalisasi pabrik terus dilakukan dengan suntikan modal dari negara, peningkatan kinerja belum terlihat maksimal tanpa pasokan tebu yang berkualitas,” ungkap Kuntoro.
Sebelumnya, Direktur Utama ID Food, Ghimoyo, secara terbuka menyatakan bahwa kualitas gula yang dihasilkan oleh BUMN pangan saat ini tidak optimal. “Hal ini disebabkan oleh kondisi pabrik gula tua yang dimiliki oleh BUMN,” kata Ghimoyo.
Di sisi lain, Yuvensius Sri Susilo, Dosen Prodi Ekonomi Pembangunan FBE UAJY dan Sekretaris ISEI Cabang Yogyakarta, juga menjelaskan bahwa kualitas gula yang dihasilkan oleh ID Food tidak sebaik produk dari pabrik gula swasta.
➡️ Baca Juga: Strategi Terukur untuk Mendapatkan Uang Online Secara Aman dan Efektif
➡️ Baca Juga: Harga Minyak Goreng Meningkat Sementara Bawang Merah dan Cabai Rawit Merah Turun, Simak Daftarnya




