Transformasi BTN Mendorong Peningkatan Kualitas Aset dan Digitalisasi Bisnis yang Efektif

Transformasi PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) dari bank yang fokus pada hipotek menjadi bank yang berbasis pada ekosistem keuangan perumahan mulai menunjukkan hasil yang signifikan. Indikator-indikator positif ini mencerminkan perubahan yang telah dilakukan oleh BTN dalam beberapa tahun terakhir.
Eko B. Supriyanto, Ketua Infobank Institute, menilai bahwa transformasi BTN tidak hanya terlihat dari sisi pertumbuhan bisnis dan digitalisasi, tetapi juga dari peningkatan kinerja yang diiringi dengan perbaikan kualitas aset.
“Transformasi BTN kini mulai memperlihatkan hasil. Ini tidak hanya terukur dari pertumbuhan bisnis, tetapi juga dari kemajuan dalam kualitas kredit dan penguatan aspek fundamental bank,” papar Eko dalam keterangan tertulisnya yang dikutip pada Rabu, 2 September 2026.
Pada paruh pertama tahun 2026, BTN mencatat laba bersih konsolidasi sebesar Rp2,40 triliun, mengalami pertumbuhan tahunan sebesar 40,8%. Di waktu yang sama, aset BTN telah mencapai Rp545 triliun, dengan kredit dan pembiayaan mencapai Rp418 triliun, serta DPK Rp433 triliun. Kualitas kredit juga menunjukkan perbaikan, di mana rasio Non-Performing Loan (NPL) turun menjadi 2,99% dari sebelumnya 3,3%, dan cost of credit menurun dari 2,0% menjadi 0,7%.
Eko menambahkan bahwa transformasi BTN juga tergambar melalui keberanian perusahaan untuk memperluas cakupan bisnisnya dari sekadar pembiayaan KPR menjadi layanan yang lebih luas. BTN mulai menciptakan ekosistem yang mengikuti perjalanan keuangan nasabah, mulai dari pembelian rumah hingga kebutuhan finansial lainnya.
“BTN tetap berkomitmen pada bisnis perumahan. Justru, bisnis perumahan tersebut diperluas menjadi ekosistem yang lebih komprehensif. Bank kini tidak hanya melihat nasabah sebagai debitur, tetapi sebagai bagian integral dalam perjalanan hidup mereka,” jelasnya.
Transformasi ini semakin diperkuat dengan digitalisasi melalui aplikasi Bale by BTN. Superapps ini kini telah memiliki sekitar 4,5 juta pengguna, didukung oleh 358 ribu merchant, 14 ribu pengembang, serta terintegrasi dengan 59 pemerintah daerah. Volume transaksi yang tercatat mencapai 2,63 miliar transaksi dengan total nilai mencapai Rp134 triliun.
Selain memperluas ekosistem, BTN juga mulai merambah segmen di luar hipotek dengan mengakuisisi portofolio kredit pensiun dari SMBC Indonesia senilai hampir Rp20 triliun. Langkah strategis ini dinilai akan memperkuat kapasitas BTN dalam memenuhi kebutuhan finansial nasabah hingga masa pensiun.
Meskipun BTN memperluas cakupan bisnisnya, Eko menegaskan pentingnya untuk tetap menjaga mandat utama mereka dalam pembiayaan perumahan nasional. Pada paruh pertama tahun 2026, kredit perumahan subsidi BTN tumbuh sebesar 8,1% menjadi Rp196,96 triliun, sementara Kredit Program Perumahan telah mencapai Rp4,1 triliun.
➡️ Baca Juga: 9 Jam Pertemuan di Moskow: Bos CIA John Ratcliffe Berinteraksi dengan Intelijen Rusia
➡️ Baca Juga: Calvin Verdonk Berperan Penting Bawa Lille Singkirkan Red Star dan Melaju ke 16 Besar Liga Europa




