Pola modern pendekatan analisa terarah slot

Metode premium slot online untuk hasil stabil

Strategi terarah slot online untuk hasil optimal

Analisa kinerja pola modern slot online

Teknik unggulan analisa pola harian slot

Strategi rahasia slot online untuk performa optimal

Strategi maksimal analisa terkini slot online

Teknik unggulan slot online untuk kinerja

depo 10k depo 10k
bisnis

Ekspor RI ke Tiongkok Capai US$5,27 Miliar pada Januari 2026, dari Baja hingga Nikel

Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan bahwa Indonesia mengalami surplus neraca perdagangan sebesar US$0,95 miliar pada bulan Januari 2026, menjadikannya sebagai surplus yang berlanjut selama 69 bulan berturut-turut sejak Mei 2021.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menyatakan bahwa Tiongkok, Amerika Serikat (AS), dan India merupakan tiga negara utama tujuan ekspor non-migas Indonesia.

“Ketiga negara ini bersama-sama menyumbang 43,77 persen dari total nilai ekspor Indonesia pada Januari 2026,” ungkap Ateng dalam konferensi pers yang diadakan secara daring pada hari Senin, 2 Maret 2026.

Ateng memberikan rincian lebih lanjut, menyatakan bahwa Tiongkok tetap menjadi pasar utama bagi Indonesia dengan nilai ekspor mencapai US$5,27 miliar atau setara dengan 24,80 persen dari total ekspor. Posisi kedua ditempati oleh Amerika Serikat dengan nilai ekspor sebesar US$2,51 miliar (11,82 persen), diikuti oleh India yang mencatat nilai ekspor sebesar US$1,52 miliar (7,15 persen).

Dalam penjelasannya, Ateng menyebutkan bahwa komoditas ekspor non-migas ke Tiongkok didominasi oleh produk besi dan baja, nikel serta barang-barang terkaitnya, serta bahan bakar mineral. Sementara itu, ekspor ke AS didominasi oleh mesin, perlengkapan elektrik dan komponennya, alas kaki, serta pakaian dan aksesoris rajutan.

Di sisi lain, Ateng melaporkan bahwa total nilai impor Indonesia pada Januari 2026 tercatat mencapai US$21,20 miliar, mengalami peningkatan sebesar 18,21 persen dibandingkan dengan Januari 2025.

Peningkatan ini terutama didorong oleh sektor non-migas, dengan total nilai impor mencapai US$18,04 miliar, yang menunjukkan kenaikan sebesar 16,71 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. “Impor sektor migas juga mengalami kenaikan yang signifikan, mencapai 27,52 persen dengan nilai US$3,17 miliar pada Januari 2026,” jelas Ateng.

Selanjutnya, dalam hal penggunaan, kenaikan impor pada bulan Januari 2026 terjadi di semua kategori, termasuk bahan baku/penolong, barang modal, dan barang konsumsi. Nilai impor bahan baku/penolong berkontribusi besar pada peningkatan total impor, dengan angka mencapai US$14,88 miliar, naik 14,67 persen dibandingkan dengan Januari 2025.

Sementara itu, impor barang modal tercatat sebesar US$4,49 miliar, mengalami lonjakan sebesar 35,23 persen dibandingkan dengan bulan yang sama tahun lalu.

“Surplus perdagangan non-migas pada bulan Januari 2026 sebagian besar didorong oleh lima komoditas utama, antara lain lemak dan minyak hewani/nabati senilai US$3,10 miliar, bahan bakar mineral US$2,16 miliar, besi dan baja US$1,51 miliar, nikel dan produk terkaitnya US$1,03 miliar, serta alas kaki senilai US$0,49 miliar,” pungkas Ateng.

➡️ Baca Juga: Diet Seimbang untuk Energi Tubuh yang Stabil Sepanjang Hari

➡️ Baca Juga: Michael Bambang Hartono Tutup Usia, Como 1907 Sampaikan Belasungkawa

Related Articles

Back to top button