Waspadai Dua Modus Penipuan Digital Saat Uang THR Cair untuk Keamanan Finansial Anda

Menjelang periode pencairan Tunjangan Hari Raya (THR) yang dinanti oleh banyak pekerja, ancaman penipuan digital semakin meningkat. Data yang diperoleh menunjukkan bahwa terjadi lonjakan kasus penipuan digital pada saat pencairan THR, yang menjadi perhatian utama bagi masyarakat yang ingin merayakan Lebaran dengan tenang.
Kondisi ini berhubungan erat dengan peningkatan aktivitas transaksi dan mobilitas masyarakat yang secara tidak langsung menciptakan lebih banyak peluang bagi pelaku penipuan untuk melancarkan aksinya. Niki Luhur, Founder & Group CEO VIDA, dalam pernyataannya yang diterima di Jakarta, pada 8 Maret 2026, mengingatkan agar masyarakat lebih waspada dan mengenali berbagai jenis penipuan digital yang mungkin mengincar mereka.
“Penipuan terus beradaptasi. Setiap kali sistem keamanan diperkuat, para pelaku akan mencari cara baru, menyesuaikan taktik, dan kembali dengan metode yang semakin kompleks dan sistematis. Mereka memanfaatkan celah keamanan, lemahnya literasi digital publik, serta momen-momen tertentu untuk melakukan aksinya,” ungkap Niki.
Niki pun mencatat setidaknya dua modus penipuan yang harus diwaspadai menjelang pencairan THR kali ini.
Modus pertama adalah phishing atau smishing. Metode ini mencakup berbagai cara untuk mengecoh korban agar mengklik tautan dan memasukkan informasi pribadi seperti nama pengguna, kata sandi, dan One-Time Password (OTP) melalui SMS. Misalnya, pelaku dapat menyamar sebagai perusahaan logistik atau menggunakan nomor tidak dikenal yang menawarkan promo Ramadhan yang ternyata palsu.
Metode ini juga telah berkembang melalui teknik fake BTS yang sempat ramai dibahas tahun lalu. Dalam metode ini, pesan-pesan palsu dapat dikirim secara massal dan terlihat seolah-olah berasal dari institusi resmi, sehingga membuatnya tampak meyakinkan bagi penerima. Ini adalah salah satu bentuk penipuan yang perlu diwaspadai.
Selanjutnya, modus penipuan kedua adalah malware. Taktik ini menggoda korban untuk mengunduh aplikasi berbahaya dalam format file APK.
Berbagai cara digunakan oleh pelaku, salah satunya dengan mengirimkan dokumen yang tampak penting, seperti informasi status pengiriman paket, undangan pernikahan, atau dokumen lain yang relevan bagi korban.
Jika korban tidak cukup hati-hati, setelah aplikasi tersebut terunduh, proses instalasi dapat terjadi secara otomatis di perangkat mereka. Hal ini memungkinkan pelaku untuk mengawasi perangkat dari jarak jauh, termasuk mengakses kata sandi dan informasi sensitif lainnya yang tersimpan dalam perangkat tersebut.
➡️ Baca Juga: Presiden AS Kunjungi Indonesia, Bahas Investasi
➡️ Baca Juga: ️Apple vs Samsung 2026: Perbandingan Lengkap Flagship Terbaru dari Dua Raksasa




