Harga Energi Meningkat Drastis, PM Inggris Tanggapi Ketidakpuasan terhadap Trump dan Putin

Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, mengekspresikan kritik tajam terhadap Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dan Presiden Rusia, Vladimir Putin, terkait situasi geopolitik yang sedang berlangsung. Ketegangan antara AS dan Iran telah menyebabkan krisis energi yang memicu dampak beruntun di seluruh dunia.
Krisis energi ini berakar dari langkah Iran yang menutup Selat Hormuz, jalur vital yang menyuplai sekitar 20 persen minyak global. Dengan penutupan tersebut, pasokan minyak menjadi sangat terbatas, sementara permintaan tetap tinggi. Hal ini menyebabkan harga minyak dunia melonjak tajam akibat meningkatnya ketegangan di jalur perairan tersebut.
Negara-negara seperti Filipina dan Australia kini berada di ambang krisis energi, seiring dengan ketidakpastian yang melanda lalu lintas di Selat Hormuz. Indonesia pun tidak luput dari dampak ini, dengan pemerintahnya mendorong penerapan kebijakan penghematan energi, termasuk penerapan kerja dari rumah setiap hari Jumat bagi Aparatur Sipil Negara (ASN), serta diharapkan diikuti oleh sektor swasta.
Starmer menyatakan rasa frustrasinya melihat lonjakan tagihan energi yang tak menentu di Inggris, yang dipicu oleh kebijakan yang diambil oleh Trump dan Putin. Ia mengaku lelah dengan strategi kedua pemimpin yang berdampak luas tersebut.
“Saya muak dengan kenyataan bahwa keluarga di seluruh negeri harus menghadapi fluktuasi tagihan energi, begitu pula dengan dunia usaha, akibat tindakan yang dilakukan oleh Putin dan Trump di pentas global,” ungkap Starmer dalam sebuah wawancara di podcast Talking Politics.
Lonjakan harga energi ini terjadi di tengah ketidakpastian harga minyak dunia yang dipicu oleh konflik geopolitik, termasuk perang yang melibatkan AS, Israel, dan Iran. Meskipun terdapat upaya untuk mencapai gencatan senjata selama dua minggu, pasar energi tetap diliputi oleh ketidakpastian yang signifikan.
Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei mengalami kenaikan sebesar 0,55 persen, mencapai level US$98,33 atau sekitar Rp1,68 juta per barel pada pagi hari tanggal 10 April 2026. Di sisi lain, minyak mentah Brent untuk pengiriman Juni juga meningkat lebih dari 1 persen menjadi US$96,91 atau sekitar Rp1,65 juta per barel.
Kenaikan harga minyak ini semakin menambah tekanan pada biaya energi secara global, termasuk di Inggris yang sangat rentan terhadap fluktuasi harga komoditas. Kebijakan dan dinamika di tingkat global sangat berpengaruh terhadap kestabilan ekonomi yang bisa dirasakan oleh masyarakat luas.
➡️ Baca Juga: Bhayangkara Presisi Kalahkan Samator dan Rebut Posisi Teratas Final Four Proliga 2026
➡️ Baca Juga: Kuasa Hukum Ungkap Rekaman CCTV Inara Rusli dan Insanul Fahmi Terkait Kasus Penetrasi



