Perubahan Perilaku Konsumen Digital yang Harus Diperhatikan untuk Strategi Bisnis Anda

Perilaku konsumen digital saat ini mengalami transformasi yang signifikan. Cara orang menemukan produk, membandingkan harga, dan membuat keputusan pembelian semakin dipengaruhi oleh media sosial, kecerdasan buatan (AI), serta tuntutan akan kecepatan dan kemudahan dalam berbelanja.
Transformasi ini bukanlah fenomena sementara. Laporan dari McKinsey mengenai kondisi konsumen pada tahun 2026 mengungkapkan bahwa perjalanan konsumen menuju keputusan pembelian kini semakin rumit. Media sosial berperan penting dalam berbagai fase perjalanan tersebut, sementara AI mulai berkontribusi dalam cara konsumen mencari dan memilih produk yang mereka inginkan.
Dalam survei yang dilakukan oleh McKinsey terhadap 4.863 konsumen di lima negara, ditemukan bahwa sekitar 25 persen responden telah memanfaatkan AI generatif untuk membantu dalam proses berbelanja.
Media sosial kini berfungsi sebagai etalase digital
Konsumen tidak lagi selalu memulai pencarian produk dari mesin pencari atau situs resmi merek. Media sosial semakin berperan sebagai sumber inspirasi sekaligus tempat menemukan produk baru yang menarik.
McKinsey mencatat bahwa penggunaan media sosial untuk riset produk mengalami peningkatan, mencapai 32 persen, dibandingkan 27 persen pada tahun 2023. Di India, hampir separuh responden yang disurvei menggunakan media sosial untuk mencari informasi mengenai produk sebelum melakukan pembelian.
Data dari DHL juga mendukung tren ini. Dalam laporan Social Commerce Trends 2026, hampir 50 persen pembeli di seluruh dunia melaporkan bahwa mereka telah melakukan pembelian melalui media sosial. Selain itu, 67 persen dari mereka memperkirakan bahwa mereka akan semakin sering berbelanja melalui platform tersebut hingga tahun 2030.
Namun, meskipun penggunaan media sosial meningkat, hal ini tidak selalu berarti bahwa konsumen merasa lebih percaya. Mereka tetap mempertimbangkan faktor seperti ulasan, rekomendasi dari orang terdekat, reputasi merek, dan pengalaman sebelumnya sebelum mengambil keputusan untuk berbelanja.
AI mulai memasuki ranah belanja
Sebelumnya, AI lebih dikenal sebagai alat untuk menghasilkan teks atau gambar. Kini, teknologi ini mulai mengambil peran yang lebih aktif dalam perjalanan berbelanja konsumen.
Riset yang dilakukan oleh IBM dan diterbitkan melalui National Retail Federation pada tahun 2026 menunjukkan bahwa 41 persen konsumen menggunakan asisten AI untuk mencari informasi produk, 33 persen untuk menemukan ulasan, dan 31 persen untuk mencari penawaran atau diskon. Di sisi lain, 72 persen konsumen masih lebih memilih berbelanja di toko fisik, menandakan bahwa pengalaman digital dan offline masih saling terkait.
Penggunaan generative AI juga semakin meluas. Survei yang dilakukan oleh Deloitte terhadap sekitar 3.500 konsumen di Amerika Serikat pada bulan Juni 2025 menunjukkan bahwa 53 persen responden telah mencoba atau menggunakan generative AI, meningkat dari 38 persen pada tahun 2024. Namun, 74 persen responden yang mengenal atau mencoba AI mengungkapkan bahwa semakin populernya teknologi ini membuat mereka lebih skeptis terhadap informasi yang mereka lihat secara online.
➡️ Baca Juga: Program MBG Tingkatkan Dampak Ekonomi dan Perkuat Gizi untuk Kelompok 3B secara Efektif
➡️ Baca Juga: Presiden Prabowo Pujian Kinerja Pegadaian dalam Pidato Sidang Tahunan MPR 2026




