Rupiah Tertekan Meski Surplus Neraca Dagang dan Ketegangan di Timur Tengah

Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan akan terus berfluktuasi, namun pada perdagangan hari ini, rupiah ditutup dengan pelemahan.
Data yang dihimpun dari Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor BI) menunjukkan bahwa pada Selasa, 3 Maret 2026, kurs rupiah berada di level Rp 16.870. Ini berarti rupiah melemah sebanyak 22 poin dibandingkan posisi sebelumnya yang berada di Rp 16.848 pada perdagangan Senin, 2 Maret 2026.
Di pasar spot, pada Rabu, 4 Maret 2026, hingga pukul 09.16 WIB, rupiah tercatat diperdagangkan di Rp 16.915 per dolar AS. Angka ini mencerminkan pelemahan sebesar 43 poin atau 0,25 persen dibandingkan posisi sebelumnya yang berada di Rp 16.872 per dolar AS.
Pengamat ekonomi dan pasar uang, Ibrahim Assuaibi, mengungkapkan bahwa Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pada Januari 2026, neraca dagang Indonesia mengalami surplus sebesar US$0,95 miliar. Surplus ini menjadi yang ke-69 kalinya berturut-turut sejak Mei 2020, didorong oleh surplus pada komoditas non-migas yang mencapai US$3,22 miliar.
Komoditas yang memberikan kontribusi pada surplus non-migas tersebut mencakup lemak dan minyak hewan nabati, bahan bakar mineral, serta besi dan baja. Di sisi lain, neraca perdagangan untuk komoditas migas mengalami defisit sebesar US$2,27 miliar, dipengaruhi oleh defisit yang berasal dari minyak mentah serta hasil minyak dan gas.
Surplus ini tercatat karena nilai ekspor Indonesia lebih tinggi daripada nilai impor selama Januari 2026. Nilai ekspor tercatat mencapai US$22,16 miliar, meningkat 3,39 persen dibandingkan Januari 2025. Sementara nilai ekspor migas adalah US$0,89 miliar, turun 15,62 persen, sedangkan ekspor non-migas mengalami kenaikan 4,38 persen dengan total mencapai US$21,26 miliar.
Di sisi lain, nilai impor Indonesia pada bulan yang sama mencapai US$21,20 miliar, meningkat 18,21 persen jika dibandingkan dengan tahun lalu. Nilai impor migas tercatat sebesar US$3,17 miliar, mengalami kenaikan tahunan sebesar 27,52 persen.
Impor non-migas juga menunjukkan tren peningkatan, dengan total mencapai US$18,04 miliar, naik 16,71 persen secara tahunan. Lonjakan nilai impor tersebut terutama didorong oleh peningkatan impor non-migas yang berkontribusi sebesar 14,40 persen.
“Meskipun mata uang rupiah menunjukkan fluktuasi, namun ditutup dengan pelemahan di kisaran Rp 16.870 hingga Rp 16.910,” jelasnya.
Perlu dicatat bahwa ketegangan yang terjadi di Timur Tengah, khususnya perang udara antara AS dan Israel melawan Iran, semakin meluas. Pada Senin, 2 Maret 2026, Israel melakukan serangan ke Lebanon, sementara Iran membalas dengan menyerang infrastruktur energi di negara-negara Teluk dan menargetkan kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz.
➡️ Baca Juga: KPU Umumkan Jadwal Resmi Pemilu Nasional
➡️ Baca Juga: The Intersection of Technological Innovation and Global Policy Frameworks



