Senat AS Dorong Pembatasan Wewenang Perang Trump Selain Isu Pemakzulan

Senat Amerika Serikat, di bawah pimpinan Chuck Schumer, berkomitmen untuk melaksanakan pemungutan suara secara rutin di Kongres. Tujuannya adalah untuk mendukung sebuah resolusi yang bertujuan membatasi wewenang perang Presiden Donald Trump dan menghentikan konflik yang telah berlangsung dengan Iran selama lebih dari 50 hari.
Dalam pidato yang disampaikan pada tanggal 20 April, Schumer dengan tegas mengkritik tindakan agresif Trump terhadap Iran yang dinilai tidak memiliki dasar yang jelas. Pemimpin Kaukus Demokrat di Senat ini menegaskan bahwa tekanan akan terus ditingkatkan di Kongres melalui pemungutan suara berulang mengenai resolusi yang membatasi kewenangan presiden, meskipun sebelumnya upaya tersebut sering kali menemui kegagalan.
“Besok, Partai Republik di Senat akan mengupayakan pemungutan suara kelima mengenai resolusi terkait kewenangan perang ini. Kami berencana untuk terus melaksanakan pemungutan suara setiap minggu selama konflik ini terus berlanjut,” ujar Schumer, seperti dikutip dari sumber yang dapat diandalkan.
Pernyataan tersebut muncul sekitar seminggu setelah Senat AS menolak resolusi yang diajukan oleh Demokrat yang bertujuan untuk membatasi kapasitas Trump dalam melanjutkan operasi militer terhadap Iran tanpa persetujuan resmi dari Kongres.
Schumer menilai bahwa Trump terus menunjukkan kurangnya rencana untuk mengakhiri konflik yang telah dipilihnya dan merugikan banyak pihak. Ia juga mengungkapkan keprihatinan mengenai ketidakjelasan dalam arah kebijakan pemerintah saat ini.
Sebagai informasi, pada tanggal 28 Februari, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap Iran. Akibat dari konflik ini, pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dilaporkan tewas.
Sebagai respons terhadap serangan tersebut, Militer Iran meluncurkan serangan balasan yang terdiri dari 100 gelombang serangan, menggunakan ratusan rudal balistik, rudal hipersonik, dan drone untuk menargetkan lokasi-lokasi strategis milik Amerika dan Israel di kawasan tersebut.
Sementara itu, pada tanggal 8 April, AS dan Iran sepakat untuk melaksanakan gencatan senjata selama dua minggu. Namun, sayangnya, negosiasi lanjutan antara Washington dan Teheran yang berlangsung di Islamabad pada tanggal 11 April tidak berhasil mencapai kesepakatan, disebabkan oleh tuntutan yang dianggap berlebihan serta perubahan posisi dari delegasi Amerika yang dipimpin oleh Wakil Presiden JD Vance.
Dalam pernyataannya, Schumer juga mengungkapkan keraguan mengenai kemungkinan keberhasilan rencana kunjungan Vance ke Pakistan pada hari Selasa untuk melanjutkan pembicaraan dengan Iran.
“Belum ada kepastian apakah Iran akan bersedia untuk bertemu dengannya, apalagi membuka Selat Hormuz di hari ke-51 konflik ini,” tambah Schumer, menunjukkan kekhawatiran yang mendalam mengenai situasi yang sedang berlangsung.
➡️ Baca Juga: Ulasan Singkat Laptop Terjangkau untuk Pelajar dalam Mendukung Pembelajaran Online Efisien
➡️ Baca Juga: RSUD Jakarta Buka Pusat Kanker Modern untuk Perawatan Terbaik



