Bursa Asia Anjlok, IEA Lepaskan Cadangan Minyak Darurat untuk Stabilkan Energi Global

Bursa Asia-Pasifik mengalami penurunan signifikan pada pembukaan perdagangan hari Kamis, 12 Maret 2026. Penurunan ini disebabkan oleh meningkatnya ketegangan konflik di Timur Tengah, yang berdampak pada fluktuasi harga minyak global.
Menteri Energi Amerika Serikat, Chris Wright, mengumumkan bahwa pemerintah AS bersama sekutunya akan melepaskan cadangan minyak mentah secara besar-besaran untuk menstabilkan pasar energi. Sebanyak 172 juta barel minyak akan dikeluarkan dari Cadangan Minyak Strategis untuk mengurangi harga minyak dunia yang telah melonjak. Selain itu, Badan Energi Internasional (IEA) berencana untuk melepaskan 400 juta barel minyak sebagai respons terhadap gangguan pasokan akibat konflik di Iran. Ini merupakan langkah terbesar dalam sejarah IEA, meskipun waktu peluncuran cadangan tersebut ke pasar belum ditentukan.
Langkah ini diambil setelah pernyataan Presiden AS, Donald Trump, yang menegaskan bahwa ia akan memanfaatkan Cadangan Minyak Strategis untuk menekan harga minyak global. Pada pukul 20.07 ET, Rabu, 11 Maret 2026, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melonjak lebih dari 6 persen menjadi US$92,91 per barel, yang setara dengan sekitar 1.570.550 rupiah (berdasarkan kurs Rp 16.900 per dolar AS).
Dari informasi yang dilaporkan oleh CNBC Internasional, indeks Nikkei 225 di Jepang mengalami penurunan sebesar 1,6 persen. Indeks Topix juga turun 1,34 persen pada awal sesi perdagangan.
Di Korea Selatan, indeks Kospi tercatat melemah sebesar 0,75 persen. Sementara itu, indeks S&P/ASX 200 di Australia mengalami penurunan yang lebih dalam, dengan koreksi sebesar 1,56 persen.
Sementara itu, bursa saham di AS, Wall Street, menunjukkan performa yang bervariasi. Indeks Dow Jones Industrial Average turun 289,24 poin atau 0,61 persen, sehingga berada di level 47.417,27.
Indeks S&P 500 juga mengalami penurunan sebesar 0,08 persen, mencapai level 6.775,80. Berbeda dengan itu, Nasdaq Composite yang didominasi oleh saham-saham teknologi justru mencatatkan kenaikan tipis sebesar 0,08 persen, menembus angka 22.716,13.
➡️ Baca Juga: Konsolidasi Pendidikan Dasar & Menengah 2025: Panduan Lengkap
➡️ Baca Juga: Prabowo Terkejut, Pertamina Memiliki 200 Anak dan Cucu Perusahaan yang Banyak



