Super scatter mengusung konsep grafis dinamis dengan tampilan modern

PGSoft berikan bagi-bagi bonus cosmic lightning parade dengan sensasi baru

Super scatter bagikan hadiah kemerdekaan scatter prosper adventure dengan peluang menarik

Transformasi teknologi global mahjong ways membantu memahami studi evolusi big data berbasis ai

Starlight princess menggabungkan unsur bintang dan fantasi

Starlight princess dan perjalanan popularitasnya di komunitas mbg

PGSoft berikan bagi-bagi bonus eternal lightning parade dengan sensasi baru

Ulasan slot online playtech dengan variasi pola dan server teruji

Slot online tawarkan bagi-bagi bonus zeus star adventure dengan hadiah berlimpah

Slot online tawarkan bagi-bagi bonus golden glory adventure dengan hadiah berlimpah

Super scatter hadirkan bagi-bagi kejutan lucky jewel path dengan hadiah melimpah

Super scatter mengusung tampilan cerah dengan konsep grafis yang dinamis

Starlight princess menyuguhkan pemandangan galaksi dengan gaya fantasi

Ulasan teknis mengapa game grid sangat populer

PGSoft berikan bagi-bagi bonus ruby lightning parade dengan sensasi baru

Wild Bounty hadirkan bagi-bagi kejutan lucky glory parade dengan kejutan istimewa

Slot online tawarkan bagi-bagi bonus golden star adventure dengan hadiah berlimpah

Wild Bandito dan pengalaman bermain yang dibagikan komunitas mbg

depo 10k depo 10k
bisnis

Bank Dunia Peringatkan Melambatnya Ekonomi Asia Akibat Perang Iran dan Israel-AS

Bank Dunia telah mengeluarkan peringatan terkait perlambatan pertumbuhan ekonomi di kawasan Asia Selatan yang diprediksi akan terjadi pada tahun 2026. Peringatan ini muncul seiring dengan meningkatnya dampak dari konflik di Timur Tengah serta gangguan yang terjadi pada pasar energi global. Dalam laporan terbarunya, lembaga keuangan internasional ini memproyeksikan bahwa pertumbuhan ekonomi kawasan tersebut hanya akan mencapai 6,3 persen pada tahun 2026, mengalami penurunan dari 7,0 persen pada tahun 2025.

Penurunan proyeksi pertumbuhan ini tidak terlepas dari ketergantungan tinggi negara-negara di Asia Selatan terhadap impor energi. Kondisi ini membuat kawasan tersebut sangat rentan terhadap fluktuasi harga minyak dan gangguan dalam pasokan energi global, yang dapat mengakibatkan konsekuensi serius bagi stabilitas ekonomi.

Meski demikian, Bank Dunia mengantisipasi bahwa pertumbuhan di Asia Selatan akan kembali bangkit, dengan proyeksi mencapai 6,9 persen pada tahun 2027. Hal ini menunjukkan bahwa kawasan ini masih akan tetap menjadi salah satu yang tumbuh paling cepat di antara negara-negara berkembang, meskipun dalam konteks tantangan global yang semakin kompleks.

Ketidakpastian yang melanda perekonomian global menjadi salah satu faktor utama yang memberikan bayang-bayang pada prospek ekonomi kawasan ini. Bank Dunia menilai bahwa konflik yang terjadi di Timur Tengah berpotensi memberikan dampak yang meluas, mulai dari peningkatan inflasi hingga pengetatan kebijakan moneter. Selain itu, remitansi yang mengalir ke negara-negara di kawasan ini juga diprediksi akan mengalami penurunan, yang dapat mempengaruhi daya beli masyarakat.

Ajay Banga, Presiden Bank Dunia, menggarisbawahi bahwa dampak dari perang tidak akan bisa dihindari oleh ekonomi global. Ia menegaskan, “Konflik di Timur Tengah akan membawa pertumbuhan global menjadi lebih lambat dan inflasi yang lebih tinggi, terlepas dari seberapa cepat konflik tersebut dapat diselesaikan.”

Dalam situasi yang penuh tekanan ini, India diperkirakan akan tetap menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi di kawasan Asia Selatan. Bank Dunia memproyeksikan bahwa ekonomi India akan tumbuh sebesar 7,6 persen pada tahun fiskal 2025/2026 sebelum mengalami penurunan menjadi 6,6 persen pada tahun 2026/2027. Proyeksi ini mencerminkan ketahanan relatif India dibandingkan dengan negara-negara lain di sekitarnya.

Sementara itu, negara-negara lain di Asia Selatan menunjukkan pola pertumbuhan yang beragam. Bangladesh diperkirakan akan mengalami pertumbuhan sebesar 3,9 persen seiring dengan pemulihan dari ketidakstabilan politik yang dialaminya. Di sisi lain, Bhutan diperkirakan akan mencatat pertumbuhan yang cukup tinggi, mencapai 7,1 persen, berkat proyek pengembangan tenaga air yang sedang berjalan.

Sri Lanka diperkirakan akan mengalami perlambatan pertumbuhan menjadi 3,6 persen pada tahun 2026, turun dari 5,0 persen pada tahun 2025, akibat tekanan dari harga energi yang meningkat. Maladewa, di sisi lain, diprediksi akan mengalami penurunan yang tajam hingga hanya 0,7 persen, yang disebabkan oleh tekanan pada sektor pariwisata dan biaya bahan bakar yang melonjak, serta masalah dalam pembiayaan. Nepal juga diperkirakan akan tumbuh sebesar 2,3 persen sebelum kembali pulih seiring dengan meredanya gejolak domestik.

Johannes Zutt, Wakil Presiden Bank Dunia untuk Asia Selatan, mengungkapkan bahwa meskipun tantangan global yang dihadapi cukup berat, prospek ekonomi kawasan ini masih terlihat cukup menjanjikan. Ia menyatakan, “Meskipun lingkungan internasional yang penuh tantangan, prospek pertumbuhan Asia Selatan tetap menunjukkan kekuatan yang cukup baik.”

Dengan berbagai faktor yang mempengaruhi perekonomian, penting bagi negara-negara di Asia Selatan untuk memantau perkembangan global dan menerapkan kebijakan yang tepat untuk menjaga stabilitas ekonomi dan mendukung pertumbuhan yang berkelanjutan.

➡️ Baca Juga: Negara-Negara yang Ideal untuk Menggunakan Kendaraan Komersial Produksi Indonesia

➡️ Baca Juga: Alasan Mengejutkan di Balik Keraguan Ali Khamenei Terhadap Kepemimpinan Putranya di Iran

Related Articles

Back to top button