Netanyahu Menyatakan Protes Keras Terhadap Pernyataan Menhan Pakistan Soal Israel

Menteri Pertahanan Pakistan, Khawaja Asif, baru-baru ini menyuarakan kritik tajam melalui akun media sosialnya mengenai serangan yang dilakukan oleh Israel terhadap warga sipil di Lebanon. Pernyataan ini muncul di tengah proses negosiasi yang sedang berlangsung di Islamabad, setelah serangan besar-besaran Israel pada Rabu yang mengakibatkan setidaknya 256 jiwa melayang dan ratusan lainnya terluka.
Dalam cuitannya, Asif menyebut Israel sebagai “kekuatan jahat” dan menyatakan bahwa negara tersebut merupakan “kutukan bagi kemanusiaan.” Pernyataan ini diambil dari laporan yang dipublikasikan oleh Anadolu Agency pada Jumat, 10 April 2026.
Dia juga menegaskan bahwa di Lebanon sedang terjadi aksi genosida, di mana warga sipil yang tidak bersalah menjadi sasaran serangan Israel. Asif menambahkan bahwa kekerasan yang dimulai dari Gaza, dilanjutkan ke Iran, kini menjalar ke Lebanon, menunjukkan bahwa pertumpahan darah ini tidak kunjung reda.
Lebih jauh, Asif berharap agar mereka yang bertanggung jawab atas pembentukan Israel di tanah Palestina akan mendapatkan balasan yang setimpal di akhirat. Ucapan ini menambah emosi dari pernyataannya yang sebelumnya.
Menindaklanjuti pernyataan tersebut, Kantor Perdana Menteri Israel, yang dipimpin oleh Benjamin Netanyahu, menyampaikan tanggapan yang keras. Pada hari Kamis, mereka mengutuk dengan tegas pernyataan Menteri Pertahanan Pakistan, menilai bahwa ucapan Asif merupakan seruan untuk menghancurkan Israel.
“Seruan menteri pertahanan Pakistan untuk pemusnahan Israel adalah hal yang sangat tidak bisa diterima,” demikian bunyi pernyataan dari kantor Netanyahu.
Pihak Netanyahu menilai bahwa pernyataan tersebut, yang datang dari seorang pejabat tinggi negara, merupakan hal yang tidak dapat ditoleransi. Menurut mereka, pernyataan seperti ini tidak seharusnya datang dari pemerintah mana pun, terlebih lagi dari pihak yang mengklaim sebagai penengah yang netral dalam upaya mencapai perdamaian.
Pertukaran pendapat yang penuh ketegangan ini terjadi di tengah meningkatnya serangan Israel di Lebanon, meskipun ada upaya diplomatik yang sedang dilakukan untuk gencatan senjata. Gencatan senjata tersebut diumumkan dua minggu lalu oleh Amerika Serikat dan Iran, yang juga dimediasi oleh Pakistan.
Sementara itu, mediator dari Pakistan dan Teheran menyatakan bahwa gencatan senjata ini juga mencakup Lebanon, namun Washington dan Tel Aviv membantah hal tersebut.
Militer Israel dilaporkan telah meningkatkan intensitas serangannya di berbagai daerah di Lebanon sejak Rabu, mengakibatkan setidaknya 303 orang tewas dan 1.150 lainnya terluka, berdasarkan data dari Pertahanan Sipil Lebanon.
Sejak dimulainya ofensif Israel pada 2 Maret, laporan dari Kementerian Kesehatan Lebanon mencatat bahwa sedikitnya 1.888 orang telah kehilangan nyawa, dengan 6.092 lainnya mengalami luka-luka.
Dalam konteks ini, protes Netanyahu terhadap Pakistan mencerminkan ketegangan yang semakin meningkat dalam hubungan internasional terkait konflik ini, dan menunjukkan betapa kompleksnya dinamika yang terjadi di wilayah tersebut.
➡️ Baca Juga: Mobil Bekas Rp100 Jutaan yang Masih Menarik untuk Perjalanan Mudik Anda
➡️ Baca Juga: Side Hustle Online: Kembangkan Disiplin Finansial Sejak Usia Muda untuk Kesuksesan




