Rupiah Melemah ke 17.130 Usai Proyeksi ADB Tentang Ekonomi Indonesia 2026 dan Konflik Iran-AS

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan akan terus mengalami fluktuasi, namun hari ini ditutup dengan pelemahan.
Data dari Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia menunjukkan bahwa kurs rupiah pada hari Senin, 13 April 2026, berada di posisi Rp 17.122. Nilai ini mengalami penurunan sebesar 10 poin dari kurs sebelumnya yang tercatat di Rp 17.112 pada perdagangan hari Jumat, 10 April 2026.
Dalam perdagangan di pasar spot pada Selasa, 14 April 2026, hingga pukul 09.02 WIB, rupiah diperdagangkan di level Rp 17.130 per dolar AS. Angka ini menunjukkan penurunan sebesar 25 poin atau 0,15 persen dibandingkan posisi sebelumnya yang ada di Rp 17.105 per dolar AS.
Pengamat ekonomi dan pasar uang, Ibrahim Assuaibi, mengungkapkan bahwa Bank Pembangunan Asia (ADB) memperkirakan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia akan mencapai 5,2 persen pada tahun 2026. Angka ini lebih tinggi dibandingkan realisasi pertumbuhan tahun lalu yang sebesar 5,1 persen, namun sedikit di bawah target pemerintah yang menetapkan 5,4 persen. Proyeksi pertumbuhan ini masih dalam rentang target inflasi Bank Indonesia yang ditetapkan sebesar 2,5±1 persen.
Meskipun outlook perekonomian Indonesia menunjukkan kecenderungan positif, ADB memperingatkan adanya beberapa risiko yang dapat mengganggu. Ketegangan geopolitik yang masih berlangsung serta fluktuasi harga komoditas energi menjadi ancaman bagi stabilitas ekonomi domestik.
Selain itu, kebijakan moneter yang ketat di negara-negara maju, terutama Amerika Serikat, yang diperkirakan akan bertahan lebih lama, bisa memicu ketidakstabilan aliran modal di pasar keuangan negara berkembang, termasuk Indonesia.
Dalam konteks ini, ADB merekomendasikan agar pemerintah mempercepat reformasi struktural untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing ekonomi nasional. Optimalisasi penerimaan negara dan efisiensi dalam belanja juga dianggap penting untuk menjaga ruang fiskal dalam menghadapi potensi guncangan ekonomi di masa depan.
Pertumbuhan lapangan kerja formal yang lebih kuat, terutama di sektor manufaktur, sangat penting untuk mendukung transformasi struktural yang inklusif. Sementara sektor pertanian masih menjadi penyerap tenaga kerja terbesar, sektor ini tetap dihadapkan pada tantangan produktivitas yang rendah dan tingkat informalitas yang tinggi.
“Rupiah menunjukkan fluktuasi namun ditutup melemah dalam rentang Rp 17.100 hingga Rp 17.150,” ungkap Assuaibi.
➡️ Baca Juga: Blokade Israel Berlanjut, Jerit Tangis Warga Gaza Menggema dalam Antrean Pembagian Makanan
➡️ Baca Juga: Startup Lokal Rilis Aplikasi Pendidikan Berbasis AI




