APBN September 2026: Defisit Mencapai Rp319 Triliun dan Utang Tembus Rp494 Triliun

Jakarta – Hingga akhir September 2026, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) menunjukkan defisit sebesar Rp319 triliun. Hal ini terjadi lantaran total belanja negara mencapai Rp2.660,5 triliun, sementara pendapatan negara yang berhasil dihimpun hanya sebesar Rp2.341,5 triliun.
Dalam menghadapi selisih antara pendapatan dan belanja tersebut, pemerintah telah melakukan pembiayaan utang sebesar Rp494,3 triliun, yang mencakup 59,4 persen dari target APBN tahun 2026. Langkah ini merupakan bagian dari strategi pemerintah untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan anggaran di tengah tantangan perekonomian global yang terus berkembang.
Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengungkapkan perkembangan terbaru ini dalam konferensi pers APBN KiTA edisi Oktober yang berlangsung di Jakarta pada Jumat, 9 Oktober 2026. Ia menegaskan bahwa pelaksanaan APBN hingga bulan September masih sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan oleh pemerintah.
Menurut Suahasil, APBN telah dirancang dengan mempertimbangkan defisit sejak awal. Oleh karena itu, posisi defisit yang tercatat pada akhir September perlu dipahami dalam konteks perencanaan anggaran tahunan serta perkembangan realisasi penerimaan dan belanja negara.
“Ini semua sesuai dengan jalurnya. Kita sedang menuju pelaksanaan APBN yang memang sudah dirancang untuk mengalami defisit. Jika kita melihat data bulan lalu, defisit pada bulan lalu tercatat 0,9 persen, sedangkan pada akhir September ini menjadi 1,2 persen,” jelas Suahasil.
Berdasarkan laporan dari APBN KiTA, total pendapatan negara hingga akhir September 2026 tercatat mencapai Rp2.341,5 triliun. Realisasi ini setara dengan 74,2 persen dari target pendapatan yang ditetapkan dalam APBN 2026, yang sebesar Rp3.153,6 triliun.
Sumber pendapatan negara berasal dari berbagai komponen, yang sebagian besar terdiri dari pajak, kepabeanan dan cukai, serta penerimaan negara bukan pajak (PNBP).
Penerimaan pajak sendiri tercatat mencapai Rp1.607,6 triliun, yang merupakan 68,2 persen dari target yang ditentukan dalam APBN. Angka ini menunjukkan pertumbuhan sebesar 24,1 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Sementara itu, penerimaan dari sektor kepabeanan dan cukai mencapai Rp240,1 triliun, dengan pertumbuhan tahunan sebesar 8,5 persen.
Untuk penerimaan negara bukan pajak (PNBP), total yang terkumpul mencapai Rp492,3 triliun, yang merupakan peningkatan sebesar 41,7 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.
Capaian penerimaan ini menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga kemampuan pemerintah untuk membiayai berbagai program dan kebutuhan belanja negara sepanjang tahun anggaran.
➡️ Baca Juga: Harga Toyota Innova Reborn Bekas Masih Stabil Meski Sudah Berusia 5 Tahun
➡️ Baca Juga: Motor Terseret Matel di Cakung, Warga Respons dengan Serbuan yang Mengguncang




