Palak Rp 80 Ribu Triliun dari Negara Arab untuk Mendukung Perang Melawan Iran

Amerika Serikat dilaporkan tengah berusaha mengamankan dukungan finansial dari negara-negara Arab di kawasan Teluk untuk mendanai operasi militer mereka melawan Iran. Informasi ini diungkapkan oleh jurnalis asal Oman, Salem Al-Juhouri, dalam program yang disiarkan oleh BBC Arabic.
Al-Juhouri menyatakan bahwa pemerintahan mantan Presiden Donald Trump telah memberikan tekanan kepada negara-negara di kawasan Teluk untuk berpartisipasi dalam konflik ini, baik melalui dukungan militer maupun bantuan finansial.
“Informasi yang beredar saat ini menyebutkan bahwa Presiden AS meminta negara-negara anggota GCC untuk menyetorkan dana sekitar 5 triliun dolar AS (setara dengan Rp 80.000 triliun) jika mereka ingin konflik ini berlanjut. Sebaliknya, jika mereka memilih untuk menghentikan perang, mereka diwajibkan membayar sekitar 2,5 triliun dolar AS (sekitar Rp 40.000 triliun) kepada Amerika Serikat sebagai kompensasi atas tindakan yang telah dilakukan,” ungkap Al-Juhouri, seperti yang dilaporkan oleh Middle East Eye pada 23 Maret 2026.
Hingga saat ini, baik pemerintah AS maupun negara-negara Teluk belum memberikan konfirmasi resmi terkait klaim yang dikemukakan tersebut.
Pada pekan lalu, Gedung Putih dilaporkan telah mengajukan permohonan untuk tambahan dana sebesar 200 miliar dolar AS (sekitar Rp 3.200 triliun) guna mendukung operasi militer di Iran. Dalam pernyataannya, Trump menegaskan bahwa dana tersebut diperlukan untuk memperbarui persediaan amunisi serta perlengkapan lain yang telah berkurang akibat konflik dan dukungan sebelumnya kepada negara-negara lain.
“Situasi global saat ini sangat tidak stabil. Kami ingin memastikan ada cadangan amunisi yang cukup. Meskipun saat ini masih tersedia, jumlahnya mulai berkurang karena banyak yang telah disalurkan ke Ukraina,” kata Trump seperti yang dilaporkan oleh BBC.
Permintaan dana tambahan ini muncul bersamaan dengan insiden darurat yang melibatkan pesawat tempur F-35 milik AS, yang terpaksa melakukan pendaratan darurat di pangkalan udara AS setelah menjalani misi tempur di wilayah Iran, menurut informasi dari juru bicara Komando Pusat AS.
Pesawat tersebut berhasil mendarat dengan aman, dan pilotnya dalam keadaan baik. Beberapa media AS melaporkan, berdasarkan sumber anonim, bahwa jet F-35 tersebut diduga terkena tembakan dari pihak Iran.
Pentagon memperkirakan bahwa harga satu unit dari jet tempur tersebut dapat mencapai 77 juta dolar AS, yang setara dengan sekitar Rp 1,23 triliun.
➡️ Baca Juga: Cara Cerdas Mengelola Produktivitas di Era Digital
➡️ Baca Juga: Michael Bambang Hartono Tutup Usia, Como 1907 Sampaikan Belasungkawa




