Wilayah Rawan di Arab Saudi yang Harus Dihindari oleh Jamaah Umrah Indonesia

Jamaah umrah asal Indonesia disarankan untuk senantiasa menjaga kewaspadaan saat menjalankan ibadah. Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) mengingatkan bahwa terdapat beberapa lokasi di Arab Saudi yang tergolong wilayah rawan, sehingga jamaah diimbau untuk menghindari tempat-tempat tersebut demi keselamatan.
“Diharapkan agar WNI yang berada di Arab Saudi, termasuk jamaah umrah, tetap tenang dan meningkatkan kewaspadaan. Sebaiknya hindari lokasi-lokasi rawan, patuhi peraturan yang berlaku, dan ikuti instruksi dari otoritas setempat. Keselamatan merupakan prioritas utama,” jelas Ichsan Marsha, Juru Bicara Kemenhaj, saat dihubungi dari Jakarta.
Wilayah rawan di Arab Saudi yang perlu dihindari mencakup kawasan di bagian selatan, seperti Abha, Jazan, dan Najran. Selama konflik yang melibatkan pasukan Houthi dengan Arab Saudi, daerah-daerah tersebut sering menjadi target serangan rudal dari kelompok Houthi. Selain itu, Bandara Riyadh dan Bandara Jeddah juga menjadi lokasi yang rentan, sering kali disasar oleh serangan Houthi yang menargetkan fasilitas penerbangan di Arab Saudi.
Bagi jamaah umrah yang saat ini berada di Arab Saudi, Kemenhaj mengimbau untuk terus berkoordinasi dengan Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU), memantau informasi perjalanan, dan mengikuti arahan dari otoritas setempat. Untuk jamaah yang belum berangkat, pemerintah juga meminta agar selalu memperbarui informasi mengenai situasi terkini dan mengikuti sumber resmi terkait perjalanan.
Koordinasi dengan PPIU sangat penting untuk memastikan jadwal, status penerbangan, dan kesiapan keberangkatan. Jamaah diharapkan tidak mengambil keputusan berdasarkan informasi yang tidak terverifikasi dan selalu mengonfirmasi dengan penyelenggara perjalanan.
“Kami mengingatkan jamaah yang belum berangkat agar senantiasa berkomunikasi dengan penyelenggara perjalanan dan memeriksa informasi keberangkatan melalui saluran resmi. Ikuti petunjuk pemerintah dan jangan ragu untuk meminta klarifikasi kepada penyelenggara jika terdapat perubahan dalam jadwal atau ketentuan perjalanan,” tambah Ichsan.
Sebelumnya, serangan yang menargetkan Bandara Internasional King Khalid di Riyadh pada tanggal 10 Oktober telah mengakibatkan 12 orang meninggal dunia dan 309 orang mengalami luka-luka. Insiden ini juga menyebabkan penangguhan operasi bandara, menurut pernyataan dari Otoritas Umum Penerbangan Sipil Arab Saudi.
➡️ Baca Juga: Iran Pastikan Penerbangan Internasional Berlanjut Meski Ada Ancaman Sanksi AS
➡️ Baca Juga: Erin Ungkap Fakta Mengejutkan di Balik Kabar Bahagia Andre Taulany dan Amanda Rigby



