uby.ac.id

uby.ac.id

uby.ac.id

uby.ac.id

uby.ac.id

uby.ac.id

uby.ac.id

uby.ac.id

uby.ac.id

uby.ac.id

uby.ac.id

uby.ac.id

uby.ac.id

uby.ac.id

uby.ac.id

uby.ac.id

uby.ac.id

uby.ac.id

uby.ac.id

uby.ac.id

uby.ac.id

uby.ac.id

uby.ac.id

uby.ac.id

uby.ac.id

uby.ac.id

uby.ac.id

uby.ac.id

uby.ac.id

uby.ac.id

uby.ac.id

uby.ac.id

uby.ac.id

uby.ac.id

uby.ac.id

uby.ac.id

uby.ac.id

uby.ac.id

uby.ac.id

uby.ac.id

uby.ac.id

uby.ac.id

uby.ac.id

uby.ac.id

uby.ac.id

uby.ac.id

uby.ac.id

uby.ac.id

uby.ac.id

uby.ac.id

uby.ac.id

uby.ac.id

uby.ac.id

uby.ac.id

uby.ac.id

uby.ac.id

uby.ac.id

uby.ac.id

uby.ac.id

kpkgg
bisnis

Setelah Pengumuman MSCI, BEI Meminta Klarifikasi di Sore Hari Ini

Jakarta – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) merencanakan sebuah pertemuan daring bersama Morgan Stanley Capital International (MSCI) pada Senin, 19 Oktober. Pertemuan yang dijadwalkan berlangsung pukul 15.30 WIB ini dimaksudkan untuk meminta klarifikasi mengenai keputusan MSCI yang menempatkan pasar modal Indonesia dalam status konsultasi.

Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, menyatakan bahwa pertemuan ini diadakan mengikuti pengumuman mengejutkan dari MSCI pada Jumat, 16 Oktober, pagi waktu setempat. Keputusan tersebut dianggap tak terduga oleh BEI, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), serta para peserta MSCI dan investor global.

“Untuk itu, siang ini kami akan menggelar rapat online dengan MSCI. Kami segera meminta waktu untuk bertemu dengan mereka. Setelah pertemuan, saya akan memberikan pembaruan,” kata Jeffrey saat konferensi pers di Ruang Media BEI, Jakarta, pada hari yang sama.

Jeffrey menegaskan bahwa baik BEI maupun OJK tidak pernah diberitahu sebelumnya mengenai rencana pengumuman tersebut. Ia menekankan bahwa keputusan MSCI datang tanpa adanya tanda-tanda sebelumnya.

Bahkan, banyak peserta MSCI dan investor global yang berkomunikasi dengan BEI juga terkejut dengan keputusan yang diambil tersebut.

Dalam upaya mengatasi kepanikan dan mencegah investor membuat keputusan terburu-buru di tengah ketidakpastian ini, BEI memutuskan untuk menurunkan batas Auto Rejection Bawah (ARB) dari 15 persen menjadi 7 persen. Kebijakan ini bertujuan untuk membatasi penurunan harga saham secara otomatis hingga batas yang ditentukan.

Jeffrey Hendrik mengakui bahwa langkah ini terbilang tidak biasa. Namun, kebijakan ini diambil agar para investor memiliki cukup waktu untuk menganalisis informasi terbaru sebelum mengambil keputusan investasi.

“Kami akan mengevaluasi kebijakan ini, tetapi dari review yang kami lakukan pagi hingga siang ini, langkah tersebut cukup efektif dalam meredam kepanikan,” ungkapnya.

Jeffrey mencatat bahwa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan sekitar 5 persen pada penutupan perdagangan sesi I pada Senin, 19 Oktober. Dengan demikian, penurunan IHSG belum mencapai batas ARB yang ditetapkan sebesar 7 persen.

BEI berharap agar para investor dapat lebih cermat dalam menanggapi perkembangan informasi dan tetap memperhatikan fundamental perusahaan sebelum membuat keputusan investasi.

Jeffrey menambahkan bahwa BEI telah memantau situasi sejak Jumat hingga Minggu. Selama periode tersebut, mereka juga berdiskusi dengan berbagai pihak dan mendengarkan masukan dari pelaku pasar.

➡️ Baca Juga: Steam Spring Sale 2026 Dimulai: Dapatkan Promo Diskon Game PC Terbesar Tahun Ini

➡️ Baca Juga: Cristiano Ronaldo Mundur dari Timnas Portugal, Bruno Fernandes Sampaikan Pernyataan Tegas

Related Articles

Back to top button