DPR Jadwalkan Panggilan untuk Polri dan KontraS Bahas Kasus Penyiraman Air Keras Andrie Yunus

Komisi III DPR RI berencana mengundang pihak Polri dan KontraS untuk membahas penegakan hukum terkait kasus penyiraman air keras yang menimpa Andrie Yunus, aktivis sekaligus Wakil Koordinator KontraS, setelah libur Lebaran 2026.
Ketua Komisi III DPR RI, Habiburokhman, menyampaikan bahwa rapat kerja (raker) kemungkinan akan dilaksanakan setelah Lebaran. Dalam kesempatan tersebut, pihaknya akan mengundang Polri serta para pihak terkait lainnya, termasuk Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) dan KontraS, untuk membahas lebih dalam tentang kasus ini.
Namun, jika terdapat kebutuhan mendesak, Komisi III DPR RI tidak menutup kemungkinan untuk menggelar rapat sebelum Lebaran. Habiburokhman menegaskan bahwa pihaknya sangat serius dalam menyoroti kasus ini dan menunggu perkembangan dari Polri.
“Kami memberikan waktu dan ruang kepada penyidik Polri untuk menjalankan tugas mereka,” tambahnya.
Dia juga menekankan pentingnya bagi Polri untuk aktif mencegah penyebaran informasi yang keliru, terutama terkait dengan foto pelaku yang dihasilkan melalui teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Menurut penilaian Habiburokhman, banyak masyarakat yang terpengaruh oleh foto yang dihasilkan AI tersebut, bahkan dirinya pun sempat mengira foto itu asli. Oleh karena itu, sangat penting bagi kepolisian untuk cepat tanggap dalam mengatasi kesalahan informasi ini.
“Saya sendiri sampai malam kemarin masih berpikir bahwa gambar itu real, tetapi setelah saya periksa dan menghubungi teman-teman di Polri, mereka menjelaskan bahwa itu hasil AI,” ujarnya.
Sebelumnya, pihak Polda Metro Jaya telah menegaskan komitmennya untuk menyelidiki secara menyeluruh kasus penyiraman air keras yang menimpa Andrie Yunus.
Kombes Pol Budi Hermanto, Kabid Humas Polda Metro Jaya, dalam pernyataannya di Jakarta pada hari Minggu, menyampaikan bahwa tim penyidik sedang bekerja keras di lapangan untuk mengungkap kasus ini.
“Prioritas utama kepolisian adalah mengidentifikasi dan menangkap pelaku di balik tindakan kriminal yang mengancam demokrasi ini dengan pendekatan scientific crime investigation,” ungkapnya.
➡️ Baca Juga: Calvin Verdonk Berperan Penting Bawa Lille Singkirkan Red Star dan Melaju ke 16 Besar Liga Europa




